Kejadian Tak Terdeteksi
Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 yang lalu banyak mengundang diskusi sekitar kiamat, kejadian tersebut orang menyebutnya The Day after Tomorrow saking dahsyatnya kejadian tersebut. Bagi ummat Islam hal tersebut memacu untuk menggali ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan kiamat. Membayangkan bagaimana kejadian yang dilami pada saat para Nabi terdahulu yang kaumnya di azab karena kekafiran mereka. Kemudian mempelajari cirri-ciri azab yang terjadi. Biasanya diawali dengan pengingkaran terhadap seruan para Nabi, lalu para Nabi tersebut memberikan peringatan tertang akan adanya kehancuran sebagai balasan atas keingkaran mereka.
Pada umumnya para nabi menyeru untuk beriman kepada Allah dan meninggalkan berbagai bentuk kemaksiatan dan penyimpangan terhadap norma dan susila. Penolakan terhadap seruan tersebut diancam dengan “peringatan akan datangnya suatu kejadian yang mengejutkan serta secara tiba-tiba.” Peringatan dini yang berupa peralatan seperti yang dibuat manusia modern dewasa ini tidak dijadikan “proyek” penanggulangan ancaman tesebut. Karena memang diantara ciri utama kejadian tersebut adalah tak dapat dideteksi “kapan dan di mana” itu akan terjadi. Gempa yang menimpa Yogyakarta merupakan bukti ketidak mampuan manusia dalam mendeteksi waktu kejadian yang dijanjikan tersebut. Saat itu yang dinyatakan siaga adalah Gunung Merapi, namun yang terjadi gempa dari laut; gunung yang diwaspadai justru bencana muncul dari perairan laut, itulah kenyataan.
Para nabi menawarkan seruan mereka sebagai “peringatan dini,” persiapan menghadapinya hanya dilakukan oleh orang-orang yang soleh pengikut para nabi. Persiapan ruhaniah dengan menyambut kedatangan dan seruan para nabi itu yang merupakan bekal awal, lalu secara fisik persiapan juga dilakukan atas bimbingan wahyu sebagaimana yang dilakukan Nuh AS saat diperintahkan membuat “bahtera keselamatan” yang dipandang menggelikan oleh kaumnya, namun secara dramatis mampu menyelamatkan Nuh AS dan para pengikutnya.
Mengomunikasikan kiamat serta kejadian yang mengejutkan dan menghancurkan lainnya merupakan missi para nabi hingga nabi Muhammad SAW. Seruan kepada tauhid, ketaatan akan perintah Allah SWT serta meninggalkan kemusyrikan dan kemaksiatan merupakan alasan kuat untuk melakukan persiapan-persiapan dalam menghadapi kepastian akan datangnya “hari” dan “saat” tersebut –kiamat; -red-. Bahasa al-Qur’an tidak menyebutnya dengan kata “bencana alam” seperti bahasa yang kita dengar dan kita baca sekarang. Tapi menyebutnya al-saa’ah, al-yaum yang mengisyaratkan betapa cepat dalam hitungan detik dan menit ataupun hari.
Dewasa ini berbagai kejadian tersebut bukan saja “terberitakan” tapi “tersaksikan” dan menjadi semacam tontonan yang menyajikan kengerian dan kekhawatiran sebagaimana yang disajikan dalam tayangan disaster-tainment, namun lagi-lagi bukan dipahami sebagai peringatan dan diambil pelajaran untuk lebih “berbenar” meminjam istilah Ebiet G. Ade. Visualisasi berbagai kejadian tersebut mestinya dijadikan alat untuk muhasabah mengevaluasi keimanan dan perilaku kita.
Inisiatif penulis The True of Kiamat untuk menyajikan kiamat sebagai berita besar yang dibawa para nabi dan Rasulullah SAW merupakan kerjra keras untuk meneruskan berita tersebut kepada ummat manusia. Memilih al-Qur’an dan beberapa tafsir sebagai rujukan utama merupakan tindakan bijak untuk menjawab kebutuhan ummat akan informasi tentang kiamat.
Ketika membaca buku ini yang paling menarik bagi saya saat penulis memaparkan kejadian yang dialami ummat manusia dalam beberapa kurun lampau dengan ikon nabi-nabi terntentu. Informasi ini sangat penting untuk diketahui sehingga bisa menjadi mizan qiyasi (perbandingan) untuk melihat kejadian yang serta merta terjadi dewasa ini, atau kejadian berproses seperti tenggelamnya perkampungan di Sidoarjo. Selain itu upaya klasifikasi kimat juga tak kalah menariknya, hal itu dapat memberikan pemahaman komprehensif tentang kiamat.
Buku ini menjawab berbagai pertanyaan yang saya ajukan sejak kejadian tsunami Aceh 2004 yang lalu serta memberikan pencerahan tersendiri bagi pembacanya, terlebih saat penulisnya memberikan arah antisipasi kiamat yang seakan menjadi obat penawar kegundahan, hinga buku ini terasa lengkap. Dari sudut metodologi pembahasannya buku ini terlihat seperti tafsir tematik (tafsir maudlu’i) dengan pendekatan tafsir bil-ma’tsuur lebih dominan, hingga mampu memberi ruang kepada pembaca untuk mengembangkan pemahamannya.
Al-Ikhlash, Saturday, May 01, 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar