Sabtu, 29 Juni 2013

Materi 9
“Belajar Budaya Baru”(Dr. Inggrid)

Tujuan materi:
Tujuan materi diskusi belajar budaya baru ini adalah agar mahasiswa sadar akan pentingnya pendekatan yang sungguh-sungguh dan mendalam untuk mencapai kemahiran antarbudaya di antara masyarakat dengan latar belakang budaya yang berbeda. Karena Budaya adalah tatanan alur pikir yang membedakan suatu kelompok manusia dari kelompok lainnya. (Geert Herstecle)
Sebagai pendatang, orang Indonesia harus betul-betul mau mengenal sifat-sifat yang baik dari pelajar internasional kemudian menyerapnya dan selain itu mengenal sifat-sifat buruk orang Indonesia yang kemudian dihilangkan atau dihapus. Jika kedua prinsip itu dapat diterapkan dengan baik dan utuh maka para pelajar indonesia yang berkuliah di luar negeri akan sukses dengan mudah.
Orang Indonesia yang belajar di luar negeri disebut sukses yaitu apabila merasa nyaman (betah), terjalin hubungan yang baik, dan belajar/bekerja dengan efektif (yang dibuktikan dengan nilai A). merasa nyaman atau betah karena telah mampu berkomunikasi dan menjalin hubungan yang baik tanpa harus merubah budaya baik yang dibawanya secara frontal.
Seringkali orang menganggap bahwa orang yang masih berbudaya itu disebut dengan orang yang primitif, contohnya berkerudung. Bagi pelajar Indonesia yang hendak mempertahankan budaya dan keyakinannya hendaknya ia mampu dan berani menjelaskan atau mengkomunikasikan kemauannya itu kepada orang asing. Sehingga tidak akan terjadi benturan-benturan budaya, karena sudah merupakan keniscayaan bahwa budaya indonesia dengan negara lain itu berbeda. Seperti halnya, orang Indonesia hendak melewati beberapa sekumpulan orang duduk dengan cara merundukkan kepala, hal itu dianggap sebagai orang yang sakit encok.
Supaya tidak terjadi hal demikian, di sini ada beberapa macam dimensi budaya yang terdiri dari; komunitas/lingkungan, kebangsaan, provinsi, kota, umur, status soal ekonomi, jenis kelamin, profesi, latar belakang pendidikan, suku, dan agama.
Ada 3 tingkat keunikan manusia yang kepribadian/personality, budaya dan kodarat manusia. Contoh dari personality adalah setiap anggota keluarga jika ditarik garis keturunan dari atas sesungguhnya memiliki persamaan. Misalkan, seorang ponakan menjadi guru kimia, dan ternyata bibinya juga seorang guru matematik. Hanya saja, di sini ada perbedaan kalau si ponakan mengajar kimia, sedangkan bibinya mengajar matematik, walaupun keduanya sama-sama mengajar. Inilah yang dimaksud dengan personality, walaupun profesinya sama tapi tetap emmiliki perbedaan dalam bidang mata ajarnya.
Meskipun di atas, untuk memahami budaya orang lain bukanlah perkara yang sulit, tapi tidak terlalu ribet. Untuk itu, mahasiswa perlu menyadari bagaiman cara memahami budaya lain. Proses pemahaman budaya dimulai dari ethnosentrisme, kesadaran, pengertian, penghargaan, dan pemilihan selektif.
Selain itu, beberapa indikasi sifat kolektif yaitu; sulit melepaskan diri dari ikatan kelompok, ingin menyenangkan orang lain, selalu ingin dalam kelompok sehingga sulit berinisiatif, mencari persetujuan, memiliki kompormi, dan menghindari kofrontasi, tidak terbuka dan diam, hampir tidak ada batas antara profesianalitas dan privasinya.
Beberapa indikasi sifat individualisme yaitu; ingin menentukan pilihan sendiri, tugas diri sendiri untuk menyenangkan diri, berbeda itu baik, memutuskan sendiri, berdiri, eingin menyelesaikan masalah secara terbuka, yang paenting hasil akhir mengenai caranya itu urusan gampang.
Biasanya orang Indonesia berharap kepada anakanya menjadi anak yang patuh, saleh, masih hierarki atau hubungan antara orang tua dan anak masih atas-bawah, berorientasi sosial, dan anak banyak disuruh diam. Kepribadian anak tersebut sangat jauh berbeda dengan harapan orang tua terhadap anaknya. Mereka berharap agar anaknya menjadi orang yang independen, disiplin, tidak hirarti, mandiri, dan kritis.
Kebiasaan di atas sangat wajar terjadi karena ciri-ciri orang Indonesia; nerimo, gotong royong, tepo saliro, aja dumeh, pekewuh, dan jer basuki mowo beo. Yang perlu ditularkan kepada orang Indonesia adalah masyarakat kekerabatan, tidak boleh ada benturan budaya, dan tidak ada kejenuhan budaya.
Untuk itu, mahasiswa perlu memahami 3 pilar Pendidikan antara budaya yaitu perubahan kognitif, perubahan perasaan, dan perubahan sikap. Sedangkan 3 penyesuaian budaya adalah mengurangi yang buruk, menambah yang baik, dan melengkapi yang kurang. Dan ketiga pilar dan penyesuaian budaya tersebut, orang indonesia akan betah, menjalin hubungan dengan orang asing  dengan baik, dan dapat belajar dengan baik sampai sukses sehingga terciptalah kualitas diri.
Ada beberapa cara untuk meningkatkan kualitas diri, yaitu: toleransi atas ketidakpastian, percaya diri, sabar, semangat mempelajari budaya luar, kemampuan berkomunikasi, keterbukaan, empati, dan rasa humor. Hal ini disupport dengan pepatah, “education is the konding of a flame, not the filling of a...”
Email: iagoes@cbn.net.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar