Review materi 5
Nasionalisme dalam film “BATAS”(Marcela)
Nasionalisme dalam film “BATAS”(Marcela)
Perbatasan Indonesia dan Malaysia di dalam film tersebut menggambarkan betapa pentingnya nilai-nilai kesatuan dan kebangsaan di negara kita. Dikisahkan ada seorang wanita yang lari karena dikejar oleh 2 pemuda yang hendak menyiksa dan memerkosa. Pemerkosan terjadi karena ada monopoli dari warga dayak Indonesia untuk mengirim wanita-wanita muda yang cantik ke perbatasan negara sebelah. Karena si ubuh itu tetap kekeuh dengan prinsipnya akhirnya lari dari dekapan para penjahat.
Praktik monopoli tersebut sesungguhnya disebabkan adanya kesenjangan antara suku sama di Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia suku tersebut belum diperlakukan sama seperti saudara-saudaranya di negara tetangga. Seperti harga sembako mahal, biaya tansportasi mahal, dan pendidikan yang terbelakang. Berbeda jauh dengan mereka yang ada di perbatasan sebelahnya. Mereka hidup dengan layak, harga sembako murah dan mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Meskipun begitu, masyarakat dayak tetap bertahan hidup di daerahnya dengan segala cara. Dan mereka tidak tergiur dan tergoda untuk melewati batas kampungnya dan keluar “menjual diri” ke negara tetangga.
Di dalam suku dayak Indonesia sendiri, kekerasan masih terjadi yang dikuasai oleh satu seorang dengan cara menguasai dagang, dan kebijakan. Meskipun begitu, sebenarnya ia masih takut dan hormat kepada Panglima. Salah satu bentuk penguasaannya adalah dia dapat mengintimidasi sang guru untuk tidak mengajar anak-anak sehingga mereka tidak pintar dan terus berladang dan kerja di sawah demi kepuasan dan keuntungan pribadi penguasa.
Padahal, sang guru sangat gencar dan ikhlas dalam mengajar ilmu kepada anak-anak di sekitar suku dayak Indonesia. Karena intimidasi penguasa itu menyebabkan sekolah dan kelasnya selalu sepei dan anak-anak pun enggan belajar. walaupun begitu, ada mba Wari yang datang dari Jakarta yang hendak meneliti, kenapa program yang digulirkan oleh lembaga pendidikan tidak berjalan dengan baik.
Beberapa saat kemudian di Dayak, mba Wari telah menemukan sumber masalahnya yaitu budaya mementingkan ekonomi daripada pendidikan serta bentuk pengajaran yang monoton, tidak kreatif dan inovatif. Maka, mba Wari mengajark orang tua untuk melek pendidikan dan mengajak Borneo dan kawan-kawan untuk memburu babi sebagai bentuk permainan yang amat disukai anak-anak suku dayak. Dengan pendektan kontekstual tersebut, mba wari dapat mengambil hati anak-anak sehingga mereka mau belajar di kelas dan di halaman, serta hutan. Dengan usaha pantang menyerah dan penanaman nilai yang kuat, pada saatnya nanti banyak warga dayak yang berubah menjadi lebih baik. itu dibuktikan dengan warga Dayak yang semakin kompak dan maju setelah Wari mengunjungi kembali ke suku tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar